Sejarah Budaya Batak di T.B Silalahi Center Balige
kumanmu.com - banyak juga orang Batak yang kurang memahami budayanya sendiri. Budaya adat Batak memang rumit sekaligus luar biasa. Contohnya, pernikahan adat Batak Toba prosesinya kompleks, panjang, dan tentunya seru.
Ketika mau jalan-jalan keliling Balige Tobasa Sabtu kemarin, saya sempat mengajak seorang wanita mengunjungi kompleks Museum TB Silalahi Center dan sempat mempelajari lebih banyak tentang sejarah, budaya, serta adat Batak yang rumit itu. Inilah sedikit cerita yang sempat saya bawa pulang seusai mengunjungi museum tersebut.
Depan Pintu Masuk museum Terdapat patung TB Silalahi dengan pakaian perwira dan seekor singa menyambut kami yang datang ke sana.
![]() |
| Patung TB Silalahi dengan pakaian perwira yang berdiri gagah, ditemani seekor harimau. |
![]() |
| Museum TB SILALAHI CENTER |
Berkendara tak lama kami sempatkan singgah untuk beli es krim di balige karna cuaca cukup panas saat itu, akhirnya kami sampai di lokasi dan menepi di TB Silalahi Center di Jl. Pagar Batu No. 88, Balige. Pelataran parkirnya sendiri berada di seberang kompleks museum. Pelataran parkirnya cukup luas, sayang gak ada pepohonan di sekelilingnya, sehingga sejuknya atmosfer Balige tidak sanggup mengalahkan teriknya mentari yang terasa menyengat.
Cukup menebus tiket masuk seharga 20 ribu di hari weekend (Libur, Sabtu & Minggu) dan 10 ribu (hari biasa), kamu udah bisa menjelajah kompleks museum ini sampai puas. Memasuki halaman, kamu akan disambut patung TB Silalahi dengan pakaian perwira yang berdiri gagah, ditemani seekor harimau. Ada pula beberapa kendaraan tempur yang pernah digunakan oleh TB Silalahi dipajang juga di taman ini, seperti sebuah tank komando dan helikopter.
Di bagian belakang patung, terdapat tulisan berbahasa Batak, lengkap dengan aksara Bataknya:
“Nasa na ni lehon Mi, tondi rodi pamatangku, Hosa dohot gogongki, rodi saluhut artangku,
Hupasahat I tu Ho, na so unsatonku do.”
Hupasahat I tu Ho, na so unsatonku do.”
Kutipan itu diambil dari buku doa umat HKBP, kira-kira artinya ini: kita selayaknya menyerahkan jiwa raga serta harta kita kepada Tuhan, karena itu semua adalah milik-Nya. Tuh, makanya jangan lupa sedekah.
Gedung utama yang paling dekat dengan pintu masuk adalah museum pribadi TB Silalahi. Sebelum memasuki ruang eksebisi, kami dipersilakan menitipkan semua tas ke dalam loker dan membawa kuncinya. Berbekal kamera ponsel, saya jadi merasa kayak anak sekolah yang lagi study tour. hahaha
Memasuki ruang pameran, kamu akan disambut dengan foto-foto presiden RI, mulai dari Soekarno sampai Jokowi. Lalu, ada juga biografi singkat TB Silalahi. Ruang pameran dipenuhi koleksi milik TB Silalahi yang digunakan selama kariernya di militer dan saat menjabat sebagai menteri negara. Mulai dari seragam dan pakaian dinas, lencana pangkat dan tanda jasa, senjata api, sampai kendaraan pribadi maupun yang digunakannya selama bertugas. Ada pula cindera mata dan kenang-kenangan yang dibawa pulang dari kunjungan beliau ke luar negeri.
![]() |
| Kendaraan Roda dua Pernah di gunakan Bapak Tiopan Bernhard silalahi |
Kamu juga bisa menemukan koleksi masa kecil TB Silalahi, seperti akta kelahiran, ijazah, sampai bangku yang digunakannya sewaktu sekolah di Sekolah Rakyat.
Beliau memang lahir dari rahim rakyat biasa, bukan bangsawan atau pejabat. Tapi, terlahir sebagai anak penggembala kerbau bukanlah halangan untuk mewujudkan cita-cita.
Itulah secarik makna yang saya tangkap dari seorang TB Silalahi melalui museum jejak langkahnya ini. Siapapun kamu, gak usah ragu untuk punya cita-cita. Jemputlah dengan semangat, kegigihan, dan kerja keras.
Perjalanan pun berlanjut dengan mengintip Huta Batak, kampung adat yang lengkap dengan rumah tradisional dan replika makam batu
![]() |
| Replika patung kepercayaan orang batak sebelum mengenal agama |
Sebelum memasuki Museum Batak yang menjadi atraksi untama, kami lebih dulu mampir ke Huta Batak, sebuah museum outdoor yang dibuat menyerupai pemukiman adat Batak. Aslinya, Huta Batak berupa desa tertutup yang didiami oleh sebuah kelompok kecil yang masih satu marga.
![]() |
| pemukiman adat Batak |
Huta Batak yang ada di kompleks TB Silalahi Center ini terdiri dari rumah adat yang disebut rumah dan sopo yang dibangun berhadapan. Bangunan-bangunan tradisional ini sudah berusia ratusan tahun dan merupakan sumbangan dari berbagai marga yang ada di kawasan Danau Toba.
Dinding rumah-rumah adat ini dihiasi dengan ukiran bermotif etnik yang khas. Menurut paham budaya Batak, bentuk ukiran itu diambil bentuk cicak. Konon, cicak itu dilempar ke mana aja bisa menempel dan hidup. Seperti itu pula nilai filosofis dan harapan yang dianut orang Batak lewat ukiran tersebut, bisa bertahan di manapun ia berada.
![]() |
| Huta Batak |
Di salah satu rumah, ada boneka Sigale-gale yang bisa digerakkan dengan tali. Di bagian belakang Huta Batak, kamu bisa menemukan replika makam batu yang digunakan leluhur orang Batak zaman dulu. Ada pula sebuah pohon Hariara yang konon usianya lebih dari 100 tahun. Pohon Hariara ini adalah pohon yang biasa dikeramatkan orang Batak zaman dulu karena ukurannya yang besar.
Memperkaya wawasan tentang kebudayaan Batak yang indah dan rumit lewat berbagai koleksi di Museum Batak
Bagi saya, inilah pertunjukan utama dari kompleks museum TB Silalahi Center ini. Di dalam bangunan modern inilah kamu bisa belajar banyak tentang kebudayaan yang menjadi identitas masyarakat Batak selama berabad-abad. Dari jendela bangunan ini, panorama Danau Toba yang memikat bisa kamu nikmati dengan leluasa.
![]() |
| Pemandangan dari Museum TB Silalahi langsung ke danau toba |
Saat naik menuju ruang pameran, kamu akan dibuat kagum dengan arsitektur bangunannya yang simetris. kamu juga akan menemukan beberapa artefak adat Batak seperti buli-buli tempat ramuan obat sampai becak motor yang dipajang.
Memasuki ruang pameran, ada kata-kata bijak leluhur Batak yang maknanya membuat saya tertarik:
“Hamoraon, hagabeon, hasangapon: Carilah rezeki dan keberuntungan, carilah kesempurnaan hidup, dan carilah kehormatan dan kemuliaan.”
Di dalam ruang pameran Batak Toba, kita bisa mempelajari sejarah meletusnya supervolcano yang kini menjadi danau Toba dan bagaimana letusan itu mempengaruhi migrasi manusia di seluruh dunia. Lalu, sejumlah produk adat dan budaya Batak warisan leluhur, seperti tari Tor-Tor, Sigale-gale, Ulos, sampai aksara Batak, juga dijelaskan dengan jelas dan ringkas melalui gambar dan deskripsi dalam dua bahasa, bahasa Indonesia dan bahasa Inggris.
Di salah satu dinding museum, ditempel pohon silsilah marga Batak yang berakar mulai dari Siraja Batak. Buat kamu yang berdarah Batak, menelusuri pohon silsilah ini tentu sangat menarik sekaligus penting. Tak cuma itu, kamu juga bisa menemukan seperti apa agama asli yang dianut masyarakat Batak sebelum masuknya agama-agama samawi ke tanah Batak.
Sementara, ada pula kisah kepahlawanan Sisingamangaraja XII lewat diorama seukuran manusia dewasa yang berada di sisi belakang. Di sana dicertitakan bagaimana ia bersama pengikutnya berjuang melawan penjajah Belanda sampai akhirnya tewas di tangan pasukan Kapten Hans Christoffel.
![]() |
| Patung Sisingamangaraja XII |
![]() |
| Salah Satu Patung dengan pakaian adat Batak |
![]() |
| Salah satu Miniatur Rumah adat Batak Toba |
Tanpa terasa, kami telah berkeliling selama sekitar dua jam. Sungguh, saya merasa betah melihat-lihat koleksi kekayaan budaya Batak yang dipamerkan di museum ini. Pengetahuan yang saya dapat dari sini membuat saya makin mengagumi kerumitan adat dan budaya Batak yang sarat dengan nilai filosofis.
![]() |
| Bendera Batak Sisimangaraja XII |
Kalau kamu tertarik dengan kebudayaan Batak, kamu wajib mendatangi Museum Batak yang ada di kompleks TB Sillalahi Center ini. Selain koleksinya lengkap, bangunannya yang modern dan unik juga pas buat berfoto.
Ah, sejujurnya saya masih ingin berkeliling lebih lama. Sayangnya, destinasi selanjutnya sudah menanti untuk dijelajahi. Mungkin, suatu hari saya bisa kemari lagi.
Sehabis dari museum TB Sillalahi Center kami mengunjungi salah satu tempat baru pantai yang hits di kalangan anak muda balige yaitu sunset beach lumban gaol.
ya salah satu spot yang katanya tempat melihat tengelamnya matahari, kami pun penasaran. dari jalan besar menuju lokasi lumayan jauh dan tidak ada angkot, saya sarankan untuk naik kendaraan pribadi mobil maupun sepeda motor. sesampai disana kami menikmati danau toba dan tempat spot foto mulai dari bingkai raksasa, pondok, jembatan kemudian payung warna-warni melayang juga ada disana.
ya salah satu spot yang katanya tempat melihat tengelamnya matahari, kami pun penasaran. dari jalan besar menuju lokasi lumayan jauh dan tidak ada angkot, saya sarankan untuk naik kendaraan pribadi mobil maupun sepeda motor. sesampai disana kami menikmati danau toba dan tempat spot foto mulai dari bingkai raksasa, pondok, jembatan kemudian payung warna-warni melayang juga ada disana.
Habis berfoto di dua spot kemudian kami duduk sambil bercerita sembari menunggu matahari tengelam, tapi memang di sayangkan, karena cuaca yang mendung kami tidak dapat melihat matahari tenggelam, tapi melihat ombak yang saling kejar-kejaran di pingir danau toba itu sudah sangat indah.
tapi ada salah satu, hal yang menyenangkan bisa jalan berdua bersama.
Terimakasih buat seorang wanita yang setia menemanin satu harian, berpetualang dari museum, sunset beach hingga pulang ke tempat tujuan.
Terimakasih buat seorang wanita yang setia menemanin satu harian, berpetualang dari museum, sunset beach hingga pulang ke tempat tujuan.
sekian perjalanan kami hari ini, sampai jumpa di perjalanan lainnya.
salam inspirasi



















Posting Komentar untuk "Sejarah Budaya Batak di T.B Silalahi Center Balige"